
"Uda nyandang gelar sarjana tapi masih aja bingung. Dulu semasih kuliah pengen cepet-cepet lulus, uda lulus malah pengen kuliah lagi. Susah nyari kerja, lamar sana sini, wawancara kesana kemari tapi nggak keterima kerja juga. IPK pas-pasan..Gimana dunk??????" Kalimat ini sering banget aku denger dari beberapa teman dan saudara yang uda lulus kuliah tapi masih jadi "Pengacara" alias pengangguran tanpa acara... & setelah dipikir-pikir stress juga ya kalo berada di posisi mereka. Tak jarang juga ada yang protes, "emang apa sih psikotes itu? fungsinya apa? ga penting banget deh..gara-gara itu tuh gw ga ktrima kerja, dasar Psikolog kurang kerjaan..masak sarjana disuruh gambar pohon..." Eiths..jangan nyingung2 Psikolog. Kamu harus tau kalo yang nyeleksi kerja bukan cuman Psikolog tapi juga ahli profesional lainnya. Ga trima dunk dibilang ga punya kerjaan, secara calon Psikolog,hehehe...
Aku kasi tau nih ya sejarah munculnya Psikotes, biar kamu ga cuman protes...ni ceritanya:
Tujuan tes psikologi itu adalah untuk memilih calon-calon karyawan yang memiliki kompetensi maksimal, kualitas kepribadian yang baik, dan kecakapan yang memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang dibutuhkan perusahaan. Kualitas yang diukur diantaranya kecerdasan (IQ), motivasi kerja, keterampilan sosial, problem solving, komunikasi dan manajemen emosi, optimisme, antusiasme, kematangan emosi, bakat dan beberapa aspek lainnya. Biasanya calon karyawan dalam seleksi kerja sering diberikan 5 macam psikotes, meliputi tes IQ, tes bakat, tes kepribadian, tes sikap kerja, dan tes prestasi. Jadi uda jelaskan kalau kamu ga lulus dalam suatu psikotes, berarti ada 3 kemungkinan yang terjadi:
- Kemampuan dan potensi psikologis yang kamu miliki nggak memenuhi persyaratan pekerjaan yang ditetapkan. Misalnya mungkin IQ kamu kurang memadai, kepribadian yang kurang matang, sikap kerja kamu lambat, tidak teliti atau ketahanan kerja yang kamu milliki cenderung rendah.
- Kemampuan dan potensi psikologis sudah baik tapi kualitas kamu nggak sesuai dengan pekerjaan yang ditawarkan. MIsalnya aja kamu cerdas, tapi kamu tu memiliki kepribadian introvert yaitu kepribadian yang lebih suka bekerja sendiri, kurang suka bertemu dengan orang banyak, lebih banyak diam dan merenung. sementara pekerjaan yang ditawarkan adalah marketing, yah jelas nggak mungkin diterimalah coz kepribadian introvert akan menghalangi kamu untuk sukses dalam pekerjaan itu. Orang yang memiliki kepribadian ekstrovertlah yang cocok menduduki posisi marketing coz mereka dituntun untuk bertemu dengan orang banyak.
- Kamu memiliki kemampuan dan potensi yang baik tapi dalam mengerjakan tes kamu tidak memahami instruksi yang diberikan. Akibatnya jawaban kamu nggak bagus dan akan menimbulkan interpretasi yang negatif.
Apa yang bisa kamu lakukan? Jika kamu termasuk dalam kategori:
- Kamu harus banyak-banyak mengembangkan potensi kamu, meningkatkan skill yang kamu miliki, dan salah satunya dengan mengikuti pelatihan penegmbangan kepribadian, kursus-kursus ketrampilan seperti bahasa asing, komputer, manajemen, dll.
- Kamu harus memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan potensi yang kamu miliki. Jangan asal masukin lamaran, tar salah masuk tau rasa lo...
- Kamu harus memahami instruksi yang diberikan oleh tester (pengetes), berkonsentrasi dalam mendengarkan instruksinya, dan patuhi instruksi yang ada, jangan melawannya karena terkadang beberapa tes sengaja menjebak orang yang dites so butuh konsentrasi tingkat tinggi. Dan yang paling penting, jangan sekali-kali meminjam buku panduan tes terutama tes kepribadian dari mahasiswa atau orang-orang psikologi. Walaupun kamu merasa sudah menemukan kuncinya namun pada kenyataannya kamu malah mengingkari diri kamu sendiri karena apa yang kamu kerjakan tidak sesuai dengan diri kamu. Gimana mereka bisa tau? nah itu hebatnya Psikolog, hehehe..
